Perubahan Dinamis dalam Hubungan Prancis dan Azerbaijan Usai Pertemuan di KTT Eropa
World
โ€ข4 menit bacaโ€ขoleh Fresh Feeds AI

Perubahan Dinamis dalam Hubungan Prancis dan Azerbaijan Usai Pertemuan di KTT Eropa

Pertemuan terbaru antara Presiden Prancis dan Azerbaijan menandai perbaikan dalam hubungan kedua negara setelah periode ketegangan, dengan harapan normalisasi dan perdamaian regional di Kaukasus.

Hubungan antara Prancis dan Azerbaijan menunjukkan tanda-tanda perbaikan signifikan setelah periode ketegangan politik yang berkepanjangan. Pertemuan antara Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev pada KTT Komunitas Politik Eropa (EPC) di Kopenhagen pada tanggal 2 Oktober 2025 menandai titik balik dalam hubungan bilateral kedua negara.

Pertemuan ini, yang diinisiasi oleh pihak Prancis, menandai titik awal dialog yang lebih konstruktif setelah beberapa tahun hubungan yang dingin dan bahkan terkadang penuh permusuhan. Ahli politik dari Azerbaijan, Israel, dan Belarus menilai bahwa sikap konfrontatif Prancis sebelumnya terhadap Azerbaijan kini bergeser menjadi pendekatan yang lebih dialogis dan kooperatif.

Menurut Rasim Musabayov, anggota parlemen Azerbaijan dan ilmuwan politik, upaya Presiden Macron yang sebelumnya mencoba mengatur negara-negara di wilayah Kaukasus Selatan seperti Azerbaijan, Armenia, dan Georgia, telah ditolak oleh negara-negara tersebut. Hal ini menyebabkan Prancis mengubah pendekatannya dan memilih untuk membuka kembali jalur negosiasi secara langsung dan penuh antara Paris dan Baku.

Duta Besar Azerbaijan untuk Prancis, Leyla Abdullayeva, menyatakan harapannya bahwa hubungan yang sempat tegang antara kedua negara dapat segera dinormalisasi. Ia mencatat bahwa meskipun ada krisis domestik di Prancis, pengaruhnya terhadap hubungan bilateral tidak langsung terlihat, dan kondisi geopolitik kawasan saat ini membuka peluang untuk perdamaian yang berkelanjutan.

Salah satu faktor utama dalam ketegangan adalah posisi Prancis yang dianggap berat sebelah dalam konflik Baku-Yerevan, yang oleh Azerbaijan sudah dianggap selesai. Namun, dengan kondisi baru dan dialog yang mulai berlangsung kembali, penyelesaian masalah tersebut melalui penghapusan klaim teritorial diharapkan dapat membuka jalan bagi perdamaian yang kokoh.

Dari sisi ekonomi, meskipun terdapat ketegangan politik, perdagangan antara kedua negara tetap stabil dengan ekspor Azerbaijan ke Prancis mencapai lebih dari 46 juta dolar AS dan impor dari Prancis ke Azerbaijan sekitar 159 juta dolar AS tahun ini.

Selain itu, pertemuan ini juga mengangkat isu perdamaian regional di Kaukasus Selatan, termasuk pembicaraan sebelumnya yang dimediasi oleh Presiden AS Donald Trump. Macron juga menyatakan harapannya agar perjanjian damai antara Armenia dan Azerbaijan dapat segera ditandatangani, yang akan menjadi langkah penting menuju stabilitas kawasan.

Sementara itu, di tingkat politik domestik Prancis, ada tekanan dari badan legislatif yang meminta pemerintah dan Uni Eropa untuk meningkatkan tekanan terhadap Azerbaijan terkait isu perdamaian dan pembebasan tahanan Armenia, menandakan kompleksitas hubungan yang masih perlu dikelola secara hati-hati.

Dalam rangkaian peristiwa tersebut, nampak jelas bahwa Prancis mulai mengurangi sikap dominan dan mulai memainkan peran diplomasi yang lebih moderat dan pragmatis, khususnya dalam menangani hubungan dengan negara-negara di Kaukasus Selatan seperti Azerbaijan.

Tag:

#Prancis#Azerbaijan#KTT EPC#Hubungan Internasional#Diplomasi

Sumber:

caliber.az

caliber.az

www.azernews.az

www.azernews.az

www.azernews.az

www.azernews.az

massispost.com

massispost.com

report.az

report.az

www.1lurer.am

www.1lurer.am

caliber.az

caliber.az

report.az

report.az

armenpress.am

armenpress.am

armenpress.am

armenpress.am