
Krisis Rial Iran: Mata Uang Anjlok Rekor, Demo Meledak, Trump Ancang Tarif Baru
Mata uang Iran, rial, mengalami penurunan dramatis ke level terendah sejarah, mencapai sekitar 1,455,000 rial per dolar AS pada 13 Januari 2026, memicu protes nasional besar-besaran di seluruh 31 provinsi Iran.[2][1]
Penurunan tajam ini dipicu oleh ketegangan geopolitik, sanksi internasional yang ketat, dan kebijakan domestik yang gagal. Nilai rial telah jatuh hampir 64% dalam enam bulan terakhir, dengan laju inflasi mencapai 42,5% pada Desember 2025, membuat harga barang pokok melonjak dan merusak kepercayaan publik.[3][2]
Protes dimulai pada 28 Desember 2025 dari pemogokan pedagang di Grand Bazaar Teheran akibat kebijakan suku cadang kurs preferensial sebesar 285.000 rial per dolar yang dianggap korup. Demonstrasi menyebar ke mahasiswa, sopir truk, dan warga biasa, dengan laporan lebih dari 600 aksi protes, setidaknya 646 korban tewas, dan 10.700 ditahan.[3][1][5]
Pemerintah Iran menghadapi tekanan ganda: Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi mengklaim situasi terkendali sambil menyalahkan Israel dan AS, sementara Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei menyatakan tidak akan mundur.[1] Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mendukung protes melalui media sosial dan mengancam tindakan militer jika pembunuhan berlanjut, serta mengumumkan tarif 25% pada negara dagang dengan Iran seperti Rusia, China, dan India pada 12 Januari.[2][6]
Faktor struktural memperburuk krisis: Pasukan Pengawal Revolusi Iran (IRGC) menguasai ekonomi, menyebabkan ketidakstabilan mata uang kronis. Sejak revolusi 1979, rial kehilangan nilai hingga 20.000 kali terhadap dolar AS akibat sanksi yang membatasi ekspor minyak dan sistem kurs ganda yang korup.[4] PDB Iran menyusut 1,7% pada 2025, dengan proyeksi kontraksi lebih lanjut.[3]
Pasar gelap menunjukkan kesenjangan besar dengan kurs resmi, merusak impor barang esensial seperti elektronik dan ponsel. Internet diblokir secara bertahap untuk membatasi penyebaran protes.[1] Pemerintah Inggris melaporkan penindakan brutal dengan ribuan korban jiwa, yang terburuk dalam 13 tahun.[5]
Masa depan tak menentu: Tehran mungkin memulihkan kurs preferensial untuk menenangkan pasar atau represif lebih keras jika protes meluas ke sektor transportasi dan energi. Pakar memperingatkan siklus inflasi hiper dan ketidakstabilan politik bisa berlanjut kecuali ada reformasi mendalam.[3][1]
Tag:
Sumber:
timesofindia.indiatimes.com
www.goodreturns.in
sundayguardianlive.com
www.euronews.com
www.gov.uk
timesca.com