
Fiorentina vs AC Milan: Duel Penting di Franchi, Rossoneri Incar Tekanan ke Puncak
Laga Fiorentina vs AC Milan di Stadio Artemio Franchi menjadi salah satu pertandingan paling disorot di giornata 20 Serie A Enilive 2025/26, dengan Milan berusaha terus menempel pemuncak klasemen sementara tuan rumah berjuang menjauhi zona degradasi.[1][4][6]
Kick-off dijadwalkan pada pukul 14.00 UTC (15.00 CET) di Florence, dengan wasit Davide Massa memimpin pertandingan, dibantu Meli dan Costanzo sebagai asisten, Rapuano sebagai wasit keempat, serta Maresca dan Chiffi di ruang VAR.[1][4]
AC Milan datang ke Firenze dengan catatan positif: mereka berada di posisi kedua klasemen, hanya tertinggal tiga poin dari pemuncak, dengan rekor 11 menang, 6 imbang, dan 1 kalah sebelum laga ini.[1][3][5] Performa tandang Rossoneri juga stabil setelah kemenangan meyakinkan di Cagliari pada laga tandang pertama tahun 2026 dan dua kemenangan beruntun sebelum ditahan imbang Genoa di San Siro.[1]
Bagi Fiorentina, duel ini punya bobot berbeda: La Viola berada di papan bawah dengan hanya 13 poin dan catatan 2 menang, 7 imbang, 10 kalah, yang membuat setiap poin di kandang menjadi krusial untuk mengubah dinamika musim mereka.[3][4][6] Meski sulit, tim asuhan Paolo Vanoli mencoba memanfaatkan dukungan publik Franchi untuk mengurangi tekanan dan menghindari ‘sapuan’ kekalahan dari Milan musim ini.[4][7]
Secara historis, duel ini cukup seimbang namun sedikit berpihak ke Milan: dalam rekor pertemuan terbaru, Milan mengoleksi lebih banyak kemenangan dibanding Fiorentina dengan selisih tipis, sementara hasil imbang juga relatif sering muncul.[4][8] Hal itu membuat laga ini diprediksi berjalan ketat, terlebih kedua tim sama-sama membutuhkan poin untuk target yang berbeda.
Dari sisi komposisi pemain, kedua pelatih datang tanpa skuad penuh. Fiorentina kehilangan Tariq Lamptey dan Edin Džeko karena cedera,[4] sementara Milan tidak dapat menurunkan bek Fikayo Tomori akibat hukuman skors serta striker Santiago Giménez yang mengalami cedera.[4] Absennya nama-nama tersebut memaksa penyesuaian struktur lini belakang dan opsi di lini depan, terutama bagi Milan yang tengah menjaga konsistensi di papan atas.
Susunan pemain resmi menggambarkan pendekatan taktik yang kontras. Fiorentina turun dengan formasi 4-3-3, menempatkan David de Gea di bawah mistar; lini belakang diisi Dodò, Comuzzo, Pongračić, dan Gosens; trio gelandang Mandragora, Fagioli, dan Ndour; serta sektor serang dengan Parisi, Kean, dan Guðmundsson.[2] Komposisi ini menekankan keseimbangan antara transisi cepat dari sayap dan kreativitas di lini tengah untuk mencoba menekan blok pertahanan tiga bek Milan.
Di kubu Rossoneri, Massimiliano Allegri memilih skema 3-5-2 dengan Mike Maignan sebagai kiper utama; De Winter, Gabbia, dan Pavlović sebagai trio bek; lini tengah lebar dihuni Saelemaekers dan Estupiñan di sayap, dengan Loftus-Cheek, Jashari, dan Ricci sebagai poros tengah; sementara lini depan dipercayakan kepada duet Christian Pulisic dan Nicolás Füllkrug.[2] Formasi ini menegaskan pendekatan pragmatis: solid di belakang, agresif di sayap, dan mengandalkan kombinasi mobilitas Pulisic dengan fisik Füllkrug di kotak penalti.
Dari sisi individu, beberapa pemain menjadi sorotan. Di Fiorentina, gelandang Rolando Mandragora tampil menonjol sebagai salah satu top skorer internal dengan lima gol, menjadikannya ancaman dari lini kedua.[7] Di pihak Milan, Christian Pulisic menjadi figur kunci dengan delapan gol dan dua assist di liga, menandai peran pentingnya sebagai motor serangan baik sebagai penyerang maupun gelandang serang.[7] Pertarungan di lini tengah antara Mandragora–Fagioli melawan Loftus-Cheek–Ricci diperkirakan menjadi penentu aliran bola dan intensitas tempo laga.
Tekanan klasemen membuat dinamika psikologis kedua tim berbeda. Milan membutuhkan kemenangan untuk menjaga jarak tetap dekat dengan pemuncak dan menghindari dikejar pesaing di bawah mereka.[1][3] Sebaliknya, Fiorentina berusaha mengubah tren negatif di papan bawah, di mana setiap laga kandang menjadi kesempatan penting untuk keluar dari situasi sulit dan mengembalikan kepercayaan diri skuat.[3][4][6]
Dari perspektif taktik, Fiorentina kemungkinan akan mencoba menekan tinggi di fase awal untuk memanfaatkan dukungan publik rumah dan menguji build-up tiga bek Milan, sementara Rossoneri cenderung mengandalkan struktur bertahan yang rapat, transisi cepat, dan kualitas individual di sepertiga akhir.[1][2][4] Keputusan wasit Davide Massa dalam mengelola duel fisik dan potensi penggunaan VAR juga berpotensi berpengaruh, mengingat pentingnya laga ini bagi dua kubu.[1][4]
Dengan segala konteks klasemen, tren performa, absensi pemain, serta rekam jejak pertemuan, laga Fiorentina vs AC Milan di Artemio Franchi bukan sekadar pertandingan rutin Serie A, melainkan momen krusial yang dapat mengubah peta persaingan di papan atas sekaligus memperdalam atau meredakan krisis di papan bawah.
Tag:
Sumber:
www.acmilan.com
www.acmilan.com
www.espn.com.au
www.fotmob.com
www.espn.com
www.sofascore.com
www.foxsports.com
www.flashscore.com
www.365scores.com