
**Super Flu Bandung: 10 Kasus di RSHS, 1 Meninggal karena Komorbid - Menkes: Jangan Panik!**
Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung menangani 10 pasien dengan gejala super flu atau Influenza A (H3N2) subclade K pada awal Januari 2026. Kasus ini mencakup berbagai usia, termasuk bayi dan lansia, dengan satu pasien meninggal dunia akibat penyakit penyerta.[1][2]
Ketua Tim Infeksi Penyakit Emerging dan Re-emerging (Pinere) RSHS Bandung, dr. Yovita Hartantri, menyatakan bahwa dari 10 pasien tersebut, dua adalah bayi berusia 9 bulan dan 1 tahun, satu anak usia 11 tahun, lima orang dewasa usia 20-60 tahun, serta dua lansia di atas 60 tahun. Gejala super flu cenderung lebih berat daripada flu musiman, terutama pada kelompok rentan.[1][2][4]
Menurut dr. Yovita, dua pasien mengalami kondisi berat: satu dirawat di ruang high care dan satu lagi di ruang intensif. Pasien yang meninggal memiliki komorbid seperti stroke, gagal jantung, infeksi, dan gagal ginjal, sehingga kematian tidak sepenuhnya disebabkan virus.[2][3]
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa kasus di RSHS Bandung termasuk dalam 62 kasus super flu nasional yang sudah dipantau, bukan klaster baru. Beliau menjelaskan kematian disebabkan komorbid, bukan virus itu sendiri, dan super flu bukan virus baru seperti COVID-19 karena sudah beredar puluhan tahun dengan fatality rate rendah.[3][4][5]
RSHS telah menyiapkan ruang isolasi intensif, perawatan biasa, dan isolasi di IGD. dr. Yovita imbau masyarakat waspada, segera periksa ke fasilitas kesehatan jika gejala flu berat, khususnya bayi, lansia, dan penderita penyakit penyerta.[1]
Menkes Budi menekankan agar masyarakat tidak panik karena sistem imun tubuh sudah mengenal virus ini. Penularan tinggi, tapi risiko kematian rendah pada orang sehat.[5]
Tags:
Sources:
www.antaranews.com
health.detik.com
www.cnbcindonesia.com
www.cnnindonesia.com
kumparan.com