:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-9-JANUARI-PSM12.jpg)
Gol Kilat, Dua Kartu Merah: Drama PSM Makassar vs Bali United di Parepare
Laga panas antara PSM Makassar vs Bali United pada pekan ke-17 Super League 2025/2026 berakhir dengan kemenangan tim tamu 2-0 di Stadion Gelora BJ Habibie, Parepare. Pertandingan ini menjadi sorotan warganet karena menghadirkan gol super cepat, dua kartu merah, dan memperpanjang tren negatif sang juara bertahan.
Bali United unggul lewat gol cepat Mirza Mustafic ketika laga baru berjalan sekitar 30 detik, yang tercatat sebagai salah satu gol tercepat di Super League musim 2025/2026.[1][2][3] Menerima umpan matang dari Thijmen Goppel, Mustafic menyambar bola di depan gawang dan membuat publik tuan rumah terdiam.[1][3]
Tertinggal cepat, PSM mencoba merespons. Peluang emas hadir lewat sontekan Alex Tanque di menit awal, namun bola hanya menghantam tiang gawang.[2] Sejumlah upaya lain melalui skema terbuka dan bola mati juga lahir, tetapi kurang tenangnya penyelesaian akhir membuat gawang Bali United tetap aman.[1][4]
Situasi PSM makin sulit setelah Syahrul Lasinari mendapat kartu merah langsung pada menit ke-23 akibat pelanggaran keras.[2] Sejak itu, tuan rumah bermain dengan 10 pemain dan dipaksa bekerja ekstra menghadapi tekanan serangan balik cepat Bali United yang mengandalkan kecepatan Goppel dan pergerakan para penyerang sayap.[2][3]
Memasuki babak kedua, pelatih PSM melakukan beberapa pergantian untuk menambah daya gedor. Nama-nama seperti Savio Roberto dan pemain pelapis lain coba diandalkan untuk merusak organisasi pertahanan Bali United.[1][4] Peluang sempat tercipta melalui tendangan voli Savio di babak kedua, namun bola masih melambung tinggi di atas mistar.[1][4] Upaya lain dari Alex Tanque, termasuk lewat tendangan bebas, juga belum menemui sasaran.[4]
Ketika PSM terus menekan demi menyamakan kedudukan, Bali United justru sukses memaksimalkan ruang di lini belakang tuan rumah. Pada masa injury time, Thijmen Goppel menyelesaikan skema serangan balik cepat dan mencetak gol kedua Bali United di menit 90+4.[1][2][3] Gol ini sekaligus mengunci kemenangan dan menegaskan dominasi tim tamu.
Drama belum berhenti di situ. Gelandang muda PSM, Ananda Raehan, diganjar kartu merah setelah tinjauan VAR karena melakukan sikutan terhadap pemain lawan di penghujung laga.[1][2][3] PSM pun menutup pertandingan dengan hanya sembilan pemain di lapangan.
Dari sisi statistik, PSM tercatat lebih banyak menekan pada periode tertentu di babak kedua, tetapi efektivitas penyelesaian Bali United menjadi pembeda. Data pertandingan yang dihimpun situs statistik menunjukkan dominasi Bali United dalam hal efisiensi tembakan tepat sasaran dan pemanfaatan momen transisi serangan balik.[1][3][5]
Hasil ini memperpanjang tren negatif PSM Makassar. Juku Eja kini menelan empat kekalahan beruntun di liga, setelah sebelumnya tumbang dari Borneo FC, Persib Bandung, dan Malut United.[1][4] PSM tertahan di papan tengah, berada di sekitar posisi ke-10 klasemen dengan 19 poin.[1] Situasi ini menambah tekanan untuk skuad asuhan pelatih Bernardo Tavares yang musim lalu berstatus salah satu tim papan atas.
Di kubu sebaliknya, kemenangan ini menjadi dorongan besar bagi Bali United yang tengah memburu posisi empat besar. Tambahan tiga poin mengangkat mereka ke sekitar peringkat ketujuh dengan koleksi 27 poin dan menjaga momentum positif di paruh kedua musim.[1] Performa impresif Mirza Mustafic dan Thijmen Goppel, yang masing-masing menyumbang satu gol serta terlibat langsung dalam beberapa peluang berbahaya, mendapat banyak sorotan di pemberitaan dan media sosial.[1][3]
Laga PSM vs Bali United kali ini juga memunculkan diskusi soal disiplin dan konsistensi PSM. Dua kartu merah, emosi pemain yang mudah tersulut, serta kegagalan mengonversi peluang membuat banyak pengamat menilai bahwa tim perlu berbenah dari sisi mental maupun taktik.[2][4] Di sisi lain, Bali United diapresiasi atas organisasi pertahanan yang rapi, kemampuan menekan sejak awal, dan kecerdasan memanfaatkan celah ketika PSM bermain dengan jumlah pemain yang lebih sedikit.[1][3]
Dengan paruh musim sudah terlewati, duel di Parepare ini dipandang sebagai titik krusial bagi kedua tim. Bagi PSM, kekalahan di kandang sendiri memaksa mereka mencari solusi cepat agar tidak semakin tercecer dari persaingan papan atas. Sementara bagi Bali United, kemenangan tandang atas juara bertahan di markas yang terkenal sulit ditaklukkan menjadi sinyal bahwa mereka siap kembali bersaing di jalur juara.
Tags:
Sources:
www.bola.net
makassar.tribunnews.com
www.viva.co.id
sulsel.idntimes.com
www.flashscore.co.id